Rangkuman Pribadi Tentang Pendidikan dan Motivasi


Kutipan dari Sockett (1988) tentang pendidikan/edukasi:

"Education is the endeavor to get people to do things they could not previously do, to understand things they did not previously understand, and to become the people they did not expect to become."

Pernyataan Sockett di atas selaras dengan asumsi dasar tentang fungsi motivasi, yaitu untuk menghantarkan kepada kemungkinan mengembangkan potensi anak murid.

Motivasi yang dimiliki anak akan membantu anak untuk membangun aspirasi, belajar mandiri, meraih tujuan, ketahanan/kekuatan untuk menghadapi hambatan/rintangan/permasalahan.


motivasi dan pendidikan


Definisi motivasi


Sebelum menguraikan definisi motivasi, marilah kita dengarkan kalimat-kalimat sehari-hari, kalimat yang kita sudah akrab mendengarnya. Dan kalimat ini sebenarnya menggunakan kata atau istilah motivasi.

Perhatikan kalimat berikut:

- Asrini nampaknya telah berusaha keras.

- Rosma bertanggung jawab atas hal yang telah diperbuatnya.

- Tidak ada insentif untuk melakukan pekerjaan terbaik saya di kantor.


Di bawah ini adalah beberapa pengertian motivasi:


- Antusiasme (activating behavior) tentang apa-apa yang membuat seseorang senang untuk melakukan sesuatu.

Contoh: Seorang siswa yang ingin memecahkan masalah baru di bidang matematika (soal baru) setiap pekan.

- Directing behavior, artinya apa-apa yang membuat sesuatu hal itu dipilih dari sesuatu hal lainnya.

Contoh: Palupi memilih mengerjakan PR terlebih dahulu sebelum bermain keluar bersama temannya.

- Regulating persistence of behavior, artinya alasan mengapa seseorang gigih dalam melakukan sesuatu atau gigih dalam berjuang mencapai tujuan.

Contoh: Nia tetap bersikeras berusaha untuk kuliah di luar negeri walau ia belum mendapatkan beasiswa.


Walau nampak berbeda, definisi di atas bermuara kesatu substansi, dan sebenarnya tiga definisi di atas dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang dalam cakupan teori motivasi.

Salah satu sudut pandang yang dapat menjelaskan tentang motivasi adalah teori mengenai self-determination. Self-determination ini berdasar kepada kebutuhan psikologis seseorang kepada kemandirian, keterlibatan, dan kompetensi.

Sudut pandang ini mempunyai pendekatan teori:

- Causal attributions, yaitu menginventaris alasan (reasons) untuk sukses dan juga menginventaris sebab-sebab gagal.

- Self-efficacy, yaitu kepercayaan diri tentang kompetensi/kemampuan seseorang untuk mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan/masalah.

- Thoughts about goals, yaitu melihat goal/tujuan sebagai pengalaman belajar.

- Self-worth, yaitu memelihara sikap dan persepsi bahwa kita adalah orang yang berkompeten.

- Intrinsic motivation, yaitu kebutuhan untuk merasa berkompeten dan mempunyai kemampuan serta strategi.

Motivasi dilihat dari pendekatan social-cognitive


Pendekatan secara social-cognitive berasumsi bahwa ada keterhubungan antara cognitive individual dan lingkungan sosial.

Motivasi dilihat dari sudut pandang social-cognitive terdiri dari hubungan kompleks antara:

1. Personal cognition, seperti keyakinan akan kemampuan dan kestabilan emosi.

2. Lingkungan (hal di luar diri), seperti: insentif, evaluasi dari orang lain seperti guru, bos, dll.

3. Sikap atau performa, seperti: meningkatkan usaha setelah mendapat nilai buruk, dll.